sampah di sungai taken from detik.comDewasa ini watak orang indo termasuk kita2 semakin aneh dan tidak ber-orientasi kepada lingkungan hidup ( baca : alam ). Saya hanya ingin kita semua sedikit untuk merenung sejenak tentang apa yang kita, orang lain dan negara ( Pemerintah ) telah lakukan.

Ternyata, kita semua berlaku ” Kotor” diatas tanah ibu pertiwi yg sama-sama kita banggakan. Ga percaya? liat aja, kita bahkan sering untuk membuang sampah dengan tanpa berdosa ke pinggir jalan, selokan, bahkan depan rumah. Belum lagi buat orang2 yg berkembangbiak di kawasan pinggir kali / sungai, mereka bahkan dengan tenangnya membuang segala jenis kotoran baik itu sampah rumah tangga hingga buang hajat, mereka tumpahkan dengan tanpa beban seakan semua yg mereka buang itu hanyalah sesuatu barang yg tidak bernilai yang bisa lenyap tanpa meninggalkan masalah.


sampah from flickr.comCoba kita lihat lebih jauh, sebagai bukti nyata banjir yg melanda Jakarta ibukota tercinta kita, dimana ternyata sekitar 70 persen pendangkalan aliran sungai disebabkan oleh sampah2 plastik dan sampah rumah tangga lainnya. dan selanjutnya akibat dari sampah2 jahanam itu, ekosistem di aliran sungai yg membelah kota jakarta dari selatan hingga ke utara itu telah rusak total. Dan kenapa harus dijawab dengan proyek Banjir Kanal Timur??? khan ad pepatah bilang; “That Is Not The GUN but The Man Behind The GUN”. ya iyalah, yg ditakutin bukan senjatanya, tp orang yg megang senjatanya! Kenapa harus bangun benda mati sedangkan tingkat kesadaran masyarakat – mungkin kita2 juga – tidaklah kunjung diperbaiki? Coba aja bayangin, Banjir Kanal Timur selesai, ehh… malah dipake lahan buang sampah baru aja sama seperti yg udah2, lalu banjir lagi, lalu pemerintah bikin proyek baru, Banjir kanal barat, timur, selatan, selanjutnya utara, lalu… lalu…. lalu…?


situ gintung jebol taken from marthauli.blogdetik.comOke, masih segar di ingatan kita musibah pecahnya situ gintung. Ternyata, ini saya pikir kesalahan bukan hanya di sisi pemerintah saja, namun ini kesalahan kolektif juga termasuk orang2 yg membangun pemukiman tepat dan persis DI BAWAH Situ Gintung. Menurut salah satu pakar Planologi yg saya simak di salah satu TV swasta, mengatakan bahwa sewaktu zaman belanda, di sekitar Situ Gintung tidak boleh dibangun pemukiman dalam bentuk apapun, berhubung waktu itu pemerintah kolonialis sangat galak dan tegas menentang segala bentuk pelanggaran peraturan, maka masarakat di sekitar situ patuh dan tunduk tanpa tedeng aling-aling.

Ehh… udah merdeka, juga udah zaman reformasi, zaman bebas, zaman edan, malahan dibangun macem2 deh, mulai dari sekolah, pemukiman, jalan akses, dll, padahal udah jelas2 itu dilarang. Ehhh… waku dilarang malah ngamuk, demo, mogok makan, nangis2, bawa2 parang dengan tamengnya yg berjudul ” demi kemanusiaan, demi hak asasi manusia, dsb.” Dan, pada akhirnya sama akibatnya justru lebih fatal dari sekedar banjir. mangkok yg dinamai situ gintung itu pecah dan, posisi pecahnya tanggul pas sekali berada tepat dibawah pemukiman padat itu. Dan ternyata juga, situ gintung menjadi dangkal dikarenakan sebagian besar ekosistem disitu telah rusak juga karena SAMPAH!

Nah, pertanyaan dasarnya adalah; Kenapa Majelis Ulama Indonesia tidak berfatwa Membuang Sampah Itu HARAM??? ga tau juga tuh… mereka sibuk juga buang sampah seenaknya kaliii….

About mymandapanda

Love Peace, Making a Good "Manah " to everyone.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s