Mohon maaf sebesar-besarnya atas kelancangan atau kesok-tahuan penulis. Namun, jujur saja saya semakin tidak kuat melihat gerak laju dari makna kemerdekaan RI dari tahun ke tahunnya yang menurut kacamata saya semakin jauh dari positif. Lebih buruk, hal ini menjadi suatu hal yang lumrah atau mungkin malahan tulisan saya ini yang tidak lumrah atau kontroversial.

Pertama-tama izinkan saya menguliti sedikit fakta yang terjadi ( sudah ) di lingkungan sekitar kita.

Ok.. apa yang langsung tersirat di benak anda ketika mendengar 17 Agustusan? ya tentunya jawaban muncul seragam : perayaan pora seperti berbagai macam lomba, warna-warni dominasi merahputih di jalanan, sulutan petasan, dan pesta musik dangdutan atau musik bising ga jelas.

Ok… kalo hanya itu masih mahfum. Tapi sadarkah kita tiap ruas jalanan selalu diganggu para orang2 yg mengatasnamakan panitia HUT RI kampungnya setempat, sibuk meminta sumbangan yang apabila oleh kita tidak dihiraukan / memberi uang maka mereka dgn sigap menyiratkan raut muka tak bersahabat. Atau kita sekarang bisa lihat mereka ngamen dari mobil ke mobil, dari satu tempat makan ke tempat makan lain dgn bergerombol muda-mudi keroyokan pula.

Ok… kalo masih dianggap mahfum oleh sebagian besar orang mungkin, tapi apakah hal tersebut tidak akan menjadikan para pemuda-pemudi itu semakin tidak kreatif, malas, selalu berfikir instan dan tidak mengerti akan yang namanya etika? Oh… jadi inikah makna kemerdekaan? Kemerdekaan yang hanya bisa dinilai dari rupiah? Miris… semakin teriris hati dan otak melihat fenomena yang dibiarkan menyubur ini.

Apa yang kalian pikirkan, perjuangkan, lakukan itu bener-bener semakin merendahkan mental bangsa! Apa yang akan Sang dwitunggal kita teriakan di kala beliau melihat penerus roda kehidupan Indonesia bertingkah layaknya pengemis? masih bagus uang yang dihasilkan bisa bermakna bagi kehidupan secara kontinyu dan berjangka panjang, toh ini akhirnya dihabiskan untuk membayar hal yang jauh dari makna kemerdekaan yang hakiki yaitu menjadi bangsa yang besar! Bukan peminta tapi pemberi! Haloooo… bangun pemudi-pemuda!!!!

Apakah para pemimpin mulai dari pemimpin keluarga, RT, RW, Lurah, Camat, Dirjen, hingga Presiden tahu masalah ini apa sengaja menutup mata dgn dalih ;” masih banyak yg lebih penting daripada ini “. Kenapa bukannya hal2 ringan yang dikerjakan seperti gerakan penghijauan, edukasi dan proteksi kesehatan warga yang terobosan tindakannya ; pengobatan gratis bagi warga kurang mampu, edukasi dan doktrinasi pentingnya mental bangsa, atau pentingya dilarang buang sampah sembarangan????

Kalo sampai hal ini dibiarkan terus-menerus, yang bakal terjadi ( sudah ) adalah ketika perayaan 17 agustusan selesai, maka ya … sudahlah… gak ada bekas sama sekali, peningkatan perikehidupan masih jalan di tempat, paradigma pemuda yang semakin chaos ( sudah terlalu banyak hal negatif; contoh : mabuk miras, narkoba dll )

Tegakah kita melihat hal ini dibiarkan? Rubah dong paradigma kalian demi pembaruan dari makna 17 Agustusan tahun depan. InsyaAllah., Amin.

About mymandapanda

Love Peace, Making a Good "Manah " to everyone.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s